You Are Here: Home » EKONOMI & BISNIS » KH Said Aqil Siroj : BLSM Hanya Obat Masuk Angin

KH Said Aqil Siroj : BLSM Hanya Obat Masuk Angin

Said_Agil_20120331_055913Jakarta,ProgresiveNews.com – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendukung rencana penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jika memang keputusan tersebut terpaksa harus diambil.

“Saya yakin pemerintah sudah memperhitungkannya. Jika memang keputusan (penaikan harga BBM) itu harus diambil untuk menghindari negara bangkrut, silahkan,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Jakarta, Kamis (30/5/13).

Namun, pak kiai itu dengan tegas menolak rencana pemberian bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) atau bantuan langsung tunai (BLT) sebagai kompensasi atas penaikan harga BBM subsidi. Sebab, dia menilai sifatnya yang tidak mendidik dan bukan solusi tepat.

“BLSM itu hanya obat masuk angin saja, saya tidak setuju,” tandas kiai bergelar doktor lulusan Universitas Ummul Qura’, Mekah, tersebut.

Menurut dia, pemerintah dituntut bisa menciptakan penyeimbang yang tepat atas penaikan harga BBM. Misalnya, menekan kemungkinan terkereknya harga kebutuhan pokok.

“Dengan menaikkan harga BBM, subsidi yang dikeluarkan juga bisa ditekan. Alihkan penggunaan subsidi itu secara tepat, seperti peningkatan mutu pendidikan, harga pupuk dan listrik jangan dimahalkan, dan kebutuhan di masyarakat lainnya harus bisa dijamin,” tambahnya.

PBNU mendesak pemerintah menekan kebocoran penggunaan BBM subsidi. Ini untuk menghindari keputusan penaikan harga BBM sebagai kebiasaan setelah penggunaannya dinilai melebihi kuota.

“Kalau memang sekarang mau ditetapkan harganya naik, silahkan. Tapi juga harus dipikirkan bagaimana keputusan tersebut tidak menjadi kebiasaan,” timpal Ketua Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Mustolihin Madjid.

Mustolihin mengatakan, penaikan harga BBM secara langsung dan tak langsung pasti berimbas ke kalangan usahawan, baik kelas mikro, kecil, menengah, dan besar, mengingat keputusan tersebut dapat dipastikan mempengaruhi harga sejumlah kebutuhan.

“Harus juga dihitung ulang dengan tepat, berapa produksi minyak kita dan berapa kebutuhannya. Jika tidak terjadi kebocoran, saya masih yakin produksi minyak mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Yang menyebabkan kuota jebol itu bukan hanya serapan di masyarakat, tapi juga karena adanya kebocoran di sana-sini,” tegasnya.Cfs,Tku,Td Follow@Progresivenews

Leave a Comment

Home | Contact | Copyright 2013 Progresive News - Powered by CNET